Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
certu-liste-Di dunia yang terobsesi dengan hasil akhir, kita sering mendengar cerita sukses seperti ini:
“Dia mulai dari nol, sekarang punya jutaan followers.”
“Dalam 2 tahun dia jadi milyuner.”
“Dia lolos tes masuk kedokteran di usia 19 tahun.”
“Dalam 2 tahun dia jadi milyuner.”
“Dia lolos tes masuk kedokteran di usia 19 tahun.”
Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar bertahan dan akhirnya mencapai level tinggi hampir selalu punya pola pikir yang berbeda:
Mereka jatuh cinta pada prosesnya.
Mengapa Fokus pada Hasil Bisa Menjadi Jebakan?
- Hasil berada di luar kendali penuh
Kamu bisa latihan keras setiap hari, tapi tetap saja bisa kalah di kompetisi karena lawan lebih berbakat, cuaca buruk, atau juri yang subjektif.
Kamu bisa apply ratusan lowongan, tapi tetap ditolak karena perusahaan membekukan hiring atau ada internal candidate. -
Hasil bersifat sementaraSetelah kamu mencapai target (lulus cumlaude, dapat promosi, punya 10k followers), euforia biasanya hanya bertahan beberapa minggu. Lalu muncul pertanyaan baru: “Terus sekarang apa lagi?”
Kalau hidupmu hanya tentang mengejar trofi berikutnya, kamu akan terus merasa kosong. -
Proses yang diabaikan = kebahagiaan yang tertundaBanyak orang menunda kebahagiaan sampai “nanti kalau sudah berhasil”.
“Nanti kalau sudah punya rumah sendiri, baru aku bahagia.”
“Nanti kalau sudah punya bisnis sukses, baru aku santai.”
Akibatnya, mereka menjalani 5–10 tahun hidup dengan rasa tidak cukup, stres, dan cemas.