Close

Hubungan Dosen dan Mahasiswa Pilar Pendidikan Tinggi

Hubungan Dosen dan Mahasiswa Pilar Pendidikan Tinggi
  • PublishedJanuari 2, 2026

certu-liste-Hubungan antara dosen dan mahasiswa merupakan inti dari proses pendidikan tinggi. Dosen bukan sekadar penyampai ilmumelainkan juga mentor, pembimbing, dan teladan bagi mahasiswa. Sementara itu, mahasiswa adalah subjek aktif yang menyerap, mengkritisi, dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut.

BACA JUGA : Lingkuan Kampus

Secara ideal, hubungan ini bersifat profesional namun humanis, saling menghormati, dan berorientasi pada pengembangan bersama. Namun, realitas sering menunjukkan variasi: dari ikatan yang erat seperti orang tua-anak hingga jarak yang kaku karena hierarki.

Peran Dosen dalam Hubungan dengan Mahasiswa

Dosen memiliki tanggung jawab utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam konteks hubungan dengan mahasiswa, peran dosen jauh melampaui ruang kuliah.

Pertama, dosen sebagai pengajar dan pembimbing akademik. Dosen bertugas menyampaikan materi dengan metode yang efektif, mendorong mahasiswa berpikir kritis, dan memberikan umpan balik konstruktif.

Kedua, dosen sebagai mentor karakter dan karier. Banyak mahasiswa melihat dosen sebagai role model. Dosen yang menunjukkan integritas, disiplin, dan empati akan menular pada mahasiswa. Konsultasi di luar jam kuliah, rekomendasi magang

Ketiga, dosen sebagai fasilitator penelitian bersama. Kolaborasi riset antara dosen dan mahasiswa semakin umum, terutama di perguruan tinggi riset. Mahasiswa menjadi asisten peneliti, belajar metodologi

Peran Mahasiswa dalam Hubungan dengan Dosen

Mahasiswa bukan objek pasif, melainkan mitra aktif. Peran mereka menentukan kualitas hubungan.

Pertama, mahasiswa harus menghormati dosen sebagai figur otoritas akademik. Budaya Indonesia yang menjunjung “guru” membuat sikap sopan, tepat waktu, dan aktif bertanya menjadi norma

Kedua, mahasiswa berperan memberikan umpan balik. Melalui evaluasi pengajaran atau forum diskusi, mahasiswa dapat menyampaikan saran perbaikan metode mengajar.
Ketiga, mahasiswa sebagai pelaku etika akademik. Plagiarisme, absen tanpa alasan, atau curang ujian merusak kepercayaan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *